Showing posts with label kajian islam. Show all posts
Showing posts with label kajian islam. Show all posts

Tuesday, 15 September 2020

Realita Ummat Islam Saat Ini



A.    A. Ummat yang Terbelakang
Sekarang ini kita malu mengatakan diri kita sebgai ummat yang terbaik, sekalipiun dari sisi nilai dan dari sisi konsep kita memang yang terbaik dari ummat-ummat yang lain. Akan tetapi, untuk mengatakan bahwa kita baik dari segala aspek, maka kita malu kepada Allah, malu untuk mengklaim diri kita sebagai ummat yang terbaik sebab keyataannya, sekarang ini kita terbelakang, kita mengalami kemunduran. Kenapa?
a.      Menyuruh kepada kemungkaran
Sekarang ini, bukan lagi amar ma’ruf nahi mungkar tapi yang ada adalah al amru bil mungkar wa an nahyu bil ma’ruf. Yang banyak menyerukan kemungkaran adalah ummat Islam sendiri. Yang behadapan dengan FPI,kelompok liberal, itu adalah ummat Islam.
b.     Mencegah dari kebaikan
Acara-acara di televisi sebagian besar dikendalikan oleh ummat Islam. Mereka mencegah orang dari melakukan kebaikan. Contoh : mengadakan acara-acara yang membuat orang tidak shalat berjama’ah. Kita mensetting jadwal belajar supaya kita tidak shalat berjama’ah. Tidak mengkondisikan seseorang untuk menjalankan kebaikan, membatasi/mempersempit kebaikan itu menjadi subur di kalangan ummat Islam saat ini.
c.      Mengakal-akali/mempolitisir syari’at
Fenomena ummat Islam saat ini adalah suka mengakal-akali/mempolitisir syari’at. Istilah-istilah kemungkaran dirubah namanya supaya tidak nampak bahwa dia adalah sebuah kemungkaran. Misalnya Riba, riba pada hakikatnya adalah bunga
d.     Mengikuti perilaku/pola hidup orang kafir.
Ini banyak terjadi di kalangan ummat Islam. Kalu kita mau membandingkan pola hidup agama lain dengan pola hidup kita, maka sisia apalagi yang membedakan. Rakus terhadap dunia, bahkan kebanyakan ummat Islam lebih rakus terhadap dunia dibandingkan kaum Yahud dan Nasrani, dan ada yang lebih kikir dari meeka. Dengan bermunculannya berbagai aliran-aliran, mudah sekali mereka ikut dengan pemahaman-pemahaman yang baru itu. Ada saudara kita di suatu daerah, gampang sekali menetapkan lebaran selalu lebih awal dari kaum muslimin. Merubah-rubah syari’at dari ru’yatul hilal menjadi ru’yatul bahr (melihat pantai). Jadi fenomena laut yang dilihat bukan fenomena bulan. Sangat mudah sekali ummat kita saat ini terombang-ambing dengan  berbagai millah. Bukan lagi perilaku semata-mata, tetapi sudah sampai kepada ajaran agama, sama dengan Ahmadiyah, Liberal.
Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
Dari Abu Said al Khudry : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak/cara-cara orang sebelummu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga kalaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak pasti kalian mengikutinya”. Kami (para sahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasranoi?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apa yang digambarkan dalam hadits di atas akan terjadi di suatu zaman. Dan mungkin saja zaman yang dimaksud itu adalah sekarang.
Ini kenyataan ummat kita sekarang ini, berpakaian, sampai pola hidupnya sudah naudzubillah. Jadi memang Nabi telah mensinyalir beberapa abad sebelumnya bahwa akan terjadi hal seperti ini. Termasuk senang dengan dunia, sudah merasa puas dengan dunia dan meninggalkan jihad. Ini juga diperingatkan oleh Nabi dalam hadits ini.
e.      Meninggalkan jihad fi sabilillah
Salah satu sebab Islam dihinakan oleh golongan di luar Islam keran meninggalkan jihad fi Sabilillah.
Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
Ápabila kalian sudah berjual beli dengan jual beli ‘inah, mengikuti ekor-ekor sapi, dan senang dengan pertanian serta meninggalkan jihad fi sabilillah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kalian ke dalam kehinaan. Dia tidak mengangkatnya sampai kalian kembali kepada Diin kalian.” (HR. Abu Daud, Imam Ashmad, At Tabrani dan al Baihaqi, Hadits Hasan Shahih)
Penjelasan Hadits
1.     Jual beli ‘Inah
Yang dimaksud dengan jual beli inah dalam hadits di atas adalah jual beli yang pada  dasarnya adalah pinjam meminjam yang di dalamnya terdapat riba. Misalnya, si A mempunyai motor, harganya 10 juta. Lalu ada si B yang sebenarnya membutuhkan uang, namun membeli motor milik si A dengan perjanjian 2 bulan kemudian baru akan dibayar. Ternyata si B menjual kembali motor tersebut kepada si A seharga 8 juta sebelum 2 bulan. Berarti si B meminjam atau berutang 2 juta kepada si A. Ini adalah model jual beli ‘inah. Jadi artinya mempolitisir sesuatu yang riba menjadi sesuatu yang halal. Hati-hati juga dalam realisasi murabahah (cicil mencicil). Biasanya, cicil-mencicil adalah bentuk jual beli yang harganya berbeda dengan harga cas. Contoh, harga cas sustu barang adalah 10 juta, tapi karena dicicil menjadi 13 juta. Ini boleh dalam jual beli. Tetapi yang bahaya bila yang mau menjual belum memiliki barangnya, lalu hanya memberikan uang agar dia sendiri yang membeli. Di sini perlu berhati-hati dan memperbaiki sistem, jangan sampai terjatuh ke dalam perkara riba.
2.     Mengikuti ekor-ekor sapi
Menurut Syaikh Hasan Ali maknanya adalah sibuk dengan urusan dunia dan tidak memerhatikan agamanya lagi mulai bangun, dunia yang membangunkannya dan tidur dunia pula yang menidurkannya.
Misal: Sejak bangun yang dipikir adalah udang, ikan, order terus nanti setelah lelah memikirkan udang, ikan, mobil dan order kemudian dia tertidur, bukan capek karena dakwah bukan capek karena ibadah bukan ibadah yang membangunkan dia padahal seharusnya yang membangunkan kita adalah ibadah yakni shalat subuh bukan udang bukan kebun, order dan bukan dunia
3.     Senang dengan pertanian
Masih menurut Syaikh Hasan Ali maknanya adalah puas dengan kehidupan dunianya dan sudah lupa akhiratnya
4.     Meninggalkan jihad
Tidak ada lagi semangat jihad karena sudah termakan oleh kecintaan terhadap dunia dan takut mati maka kalau fenomena ini telah terjadi ditengah-tengah ummat islam maka Allah akan menjatuhkan kehinaan kepada ummat ini.
B.    BUmmat yang ikut-ikutan / Taqlid
Fenomena ummat islam sekarang ini adalah menjadi pengikut dalam hal pemikiran dan ideologi tidak dikatakan keren kalau kita tidak tahu pola pemikiran materialis, kita tidak dikatakan keren kalau kita tidak  tahu pola pikir liberal, bahkan kita dianggap kolot . Bahkan terkadang ada didalam jiwa kita rasa rendah diri kalau kita memiliki pola pikir salaf pola pikir yang selalu membesarkan segala hal atau pemikirannya kepada sumber yang shahih dianggap orang yang tekstual sedangkan pola pikir yang berkembang sekakarng ini adalah pola pikir yang kontekstual, artinya pola pikir yang tidak melihat teksnya tapi melihat konteksnya contoh : (kalau teksnya memakai janggot tapi konteksnya tidak begitu teksnya, orang yang mencuri dipotong tangannya teksnya adalah memotong tangan tapi konteksnya adalah bagaimana memutuskan hidupnya dalam artian memenjarakan. Jadi ada perguruan tinggi yang mempelopori pemahaman seperti itu, se dangkan perguruan tinggi dimekkah dianggap miskin metode karena metode yang digunakan itu tekstual semua, lahiriyah atau teks saja, sedangkan pola yang dikembangkan dalam dunia modern adalah kontekstual bukan melihat pada teksnya.
            Dalam hal keyakinan, dalam hal sulukiyah, dalam hal perilaku semua taqlid bahkan sampai masuk kelubang biawakpun kita ikut. Karena memang media sekarang ini luar biasa dalam mempropagandakan kemungkaran dan hampir belum ada satupun stasiun televisi islam, kita juga mengelola radio, televisi padahal justru lewat media-media inilah sekularisasi dan pemurtadan merajalela dimana-mana sampai taqlid ini sampai kepada pedoman hidup kita.
C. C. Ummat yang Berpecah belah
Inilah yang menjadikan
1.jatuhnya khilafah islamiyah di Turki karena perpecahan kaum muslimin,
 2. perpecahan dalam hal persepsi atau dalam hal pola pikir ada pola pikir kontekstual dan ada pola pikir tekstual yang membedakan.,
3. Perpecahan dalam hal aqidah dan ibadah
Banyak sekali fenomena munculnya berbagai macam aliran dan tata cara ibadah bukan lagi dalam hal kaifiyat yang masing-masing mempunyai dalil tetapi memang sengaja dibuat dalil-dalil palsu untuk melejitimasi perbuatan-perbuatan mereka.
Inilah Realitanya ketika kita membandingkan kondisi idealitas dan realitas maka terjadi  suatu problema berbeda antara konsep ideal dan realitas.
            Sebagai bentuk perhatian kita maka kita harus menganalisis penyebabnya seperti halnya penyakit kalau kita hendak mengobatinya maka kita harus analisis sebab-sebabnya jangan fenomenanya saja yang sibuk kita tangani tapi akar dari fenomena tersebut harus dianalisa.
Share:

Sunday, 13 September 2020

Idealita Ummat Islam



Kalau kita melihat dalam Al Qur’an maka paling minimal ada tiga kondisi ideal yang seharusnya dimiliki umat Islam dimana kondisi ideal tersebut telah dimiliki dan dilaksanakan oleh para pendahulu-pendahulu kita (para Salafusshshaleh).
A.     Ummat yang Terbaik(Khairah ummah)
Sebagaimana yang disebutkan dalam
QS. Ali Imran : 110
110.  Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Yang dimaksud dengan kalimat Kuntum dalam ayat tersebut adalah para sahabat. Jadi Allah telah melegitimasi kebaikan dari para sahabat, artinya merekalah yang paling baik dan paling benar pemahaman keislamannya, serta paling benar pengamalannya. Itulah sebabnya, manhaj keislaman kita adalah manhaj salaf. Dalam ayat ini disebutkan 3 sifat utama yang menyebabkan para sahabat itu dikatakan ummat yang terbaik, yaiyu:
1.      Mereka memiliki semangat melakukan amar ma’ruf. Aktifitas mereka senantiasa dalam koridor amar ma’ruf.
2.      Mencegah dari kemungkaran. Jiwa mereka tidak pernah tenang melihat kemungkaran, olehnya itu mereka berbuat untuk mencegah kemungkaran.
3.      Mereka beriman kepada Allah.
Tiga sifat inilah yang menyebabkan mereka direkomendasikan dan diakui oleh Allah sebagai ummat yang terbaik.
B.      Ummat yang Pertengahan
Mereka dikatakan sebagai ummat yang ideal karena mereka menjadi ummat yang wasathan (pertengahan/moderat).
QS. Al Baqarah : 143
143.  Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

[95]  umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

Karena itu, dengan kriteria umat seperti ini mereka menjadi saksi nanti
Minimal ada 5 sifat moderat ummat terdahulu, yaitu :
a.     Antara dunia dan akhirat
Jadi tidak ada di antara dua negeri ini ( dunia dan akhirat) yang dilebihkan. Tidak boleh berat sebelah di antara keduanya dan inilah yang disebutkan dalam
QS. Al Qashash: 77
77.  Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat ini turun karena adanya sebagian sahabat yang mau lebih mengutamakan akhiratnya. Ada orang yang hanya mau menghabiskan waktunya untuk hari akhirat, hanya mengerjakan amalan2 persiapan akhirat lalu menelantarkan atau tidak mengambil bagian dari dunianya maka Allah menegur mereka dengan ayat ini. Jadi kalau mendahulukan akhirat saja atau lebih berat kepada kehidupan akhirat saja ini ditegur oleh Allah apalagi orang yang lebih mendahulukan dunianya, padahal akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia.
Banyak hadis- hadits yang akan kita sebutkan tentang orang orang yang ditegur oleh Rasulullah karena melebih-lebihkan dunianya.
Dalam sejarah sebelum islam, dikenal dua kelompok yng sangat ekstrim dalam memahami kehidupan dunia. Kelompok yang pertama yakni golongan yahudi lebih berat pada sisi dunianya. Kelompok  kedua yakni kaum nasrani lebih berat pada sisi akhiratnya dan menafikan kepentingan dunia sehingga muncul pola hidup kependetaan. Padahal seharusnya kita menjadi menjadi orang yang rabbaniyah bukan menjadi orang yang rahbaniyyah, seperti yang dijelaskan dalam sebuah buku yang berjudul ( Rabbaniyyatun laa Rahbaniyyatun)
b.     Antara material dan spritual
Mereka pertengahan dalam memperhatikan atau memenuhi unsur material dan spritual, hal-hal yang sifatnya fisik dan hal-hal yang sifsatnya ruhiyah.
c.     Antara kepentingan individu dan sosial masyakat.
Diantara contoh- contoh yang disebutkan dalam sejarah tentang pola hidup sosial yakni Rasulullah sendiri rela meminjam untuk membantu sahabatnya yang kesusahan, demikian pula perhatian beliau terhadap keluarga dan terhadap diri sendiri. Beliau bangun pada tengah malam dan juga membangunkan keluarganya, sampai membangunkan menantunya Ali bin Abi Thalib.
d.     Tidak (ekstrim)berlebih- lebihan dan tidak terlalu memudah-mudahkan.
Misalnya dalam hal berinfaq, mereka tidak kikir dan tidak pula boros. Dalam QS. Al Furqan: 67 disebutkan salah satu sifat ‘ibadurrahman, mereka membelanjakan hartanya tidak kikir dan tidak boros, mereka wasath diantaranya.

C.    Ummat yang Satu
QS. Al Anbiyaa’: 92
92.  Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[971] dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.

[971]  Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari'at.

QS. Al Mu’minun : 52

52.  Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu[1006], dan Aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku.

[1006]  lihat surat Al Anbiya ayat 92.

Yang dimaksud dalam ayat di atas adalah para sahabat, mereka adalah ummat yang solid, ummat yang satu dalam hal :
a.   Aqidah
Aqidah para sahabat adalah aqidah yang satu yakni aqidah ahlussunnah wal jama’ah
b.   Pemimpin
Para sahabat satu dalam kepemimpinan setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul khalifah, dst sampai sistem kekhalifahan itu jatuh.
c.   Jama’ah
Tidak bermunculan jama’ah jama’ah, dimana setiap jama’ah itu mengklaim diri paling benar dan menyalahkan yang lain.
Itulah idealitas, kondisi ideal yang seharusnya dimiliki oleh ummat islam pada hari ini.
Share:

Thursday, 10 September 2020

Problematika Ummat



Tujuan Materi:
1.      Menumbuhkan kesadaran bahwa memperhatikan masalah-masalah kaum muslimin adalah bahagian dari sifat seorang muslim
2.      Agar peserta tarbiyah mengetahui kondisi dan realita ummat Islam.
3.      Agar peserta tarbiyah mengetahui sebab terjadinya problema ummat dan solusi/jalan keluar untuk keluar dari masalah tersebut.
4.      Menumbuhkan kesadaran untuk terlibat aktif dalam mengatasi masalah-masalah yang dialami ummat.

Dalam problematika, terkandung makna kepedulian, perhatian setiap muslim terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh ummat Islam dan kaum muslimin. Seseorang yang tidak memiliki perhatian, kepedulian terhadap problematika ummat Islam maka di dalam satu riwayat disebutkan bahwa dia tidak termasuk ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang tidur di waktu malam dan tidak pernah risau dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum muslimin maka hakikatnya dia itu bukan ummat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apalagi kalau mereka itu sudah bergabung dalam aktivis kader. Setiap kader harus memiliki perhatian dan kepedulian terhadap problematika ummat.

Definisi
Kalau kita mendefinisikan problema, maka dalam kamus bahasa Indonesia, problema adalah masalah-masalah yang belum terpecahkan atau masalah-masalah yang belum ada solusinya.
Sedangkan definisi yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah perbedaan antara idealita dan realita ummat Islam. Jadi problema terjadi karena adanya perbedaan antara idealita dan realita atau terjadinya kesenjangan antara konsep ideal (bagaimana seharusnya ummat Islam) dan konsep realita. Misalnya, idealnya Anda ingin sukses empat tahun, namun Anda selesai tujuh tahun, maka ini adalah problema. Idealnya Anda harus tiba di Jeneponto dari Makassar dalam waktu 2,5 jam, tetapi ternyata Anda menempuh perjalanan selama 5 jam, maka ini adalah problema. Karena itu, definisi ini akan kita jadikan sebagai barometer untuk meneropong problematika ummat Islam, maka secara sederhana untuk mengetahui problematika umat Islam terlebih dahulu harus mengetahui konsep ideal ummat Islam, bagaimana seharusnya posisi ummat Islam.

Share:

Monday, 16 October 2017

Ada Apa Dengan Liqo' Tarbiyah di Wahdah Islamiyah?


Liqo' Tarbiyah Mahasiswa


Ada apa dengan liqo’ tarbiyah? Istilah liqo’ tarbiyah akhir-akhir ini menjadi pembahasan yang sering diperbincangkan baik di dunia nyata apalagi di dunia maya saat ini. Saya sendiri pertama kali mendengar kata liqo’ tarbiyah ini sejak  tahun 2013 lalu di kampus. Waktu itu di Universitas Sulawesi Barat Majene.
Saya sedikit ingin menuangkan isi pikiran saya di hari yang melelahkan ini tentang Liqo’ Tarbiyah.
Istilah liqo’ tarbiyah atau tarbiyah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan (secara spesifik mengajarkan tentang ilmu-ilmu syar’i), orang yang mendidik dinamakan murabbi dan orang yang di didik disebut mutarabbi. Saya sendiri saat ini telah masuk tahun ke5 menjadi peserta didik (mutarabbi) dalam tarbiyah ini. Iya, saya mengenalnya dari ormas islam Wahdah Islamiyah dan orang yang menjadi pendidik (murabbi) –nya pun adalah ustadz dari Wahdah Islamiyah. Ikut dalam liqo’ tarbiyah inipun awalnya iseng-iseng setelah seringnya mendapatkan undangan ta’lim dari para senior yang setiap pekannya mengirimkan info ta’lim di kampus lewat SMS. Waktu datang pertama kali di markas dakwah Wahdah Islamiyah, saya sendiri kagum dengan sambutan mereka yang antusias dengan kehadiran saya, padahal saat itu saya agak minder duduk bermajelis dengan mereka karena pakaian saya yang saat itu ala-ala mahasiswa. Tapi begitulah karakter mereka dalam memperhatikan objek dakwahnya. Terlebih saat saya sedang sakit di kost waktu itu, dimana saya hanya tingal sendiri jauh dari orang tua, mereka bergantian datang, mulai dari sekedar memijit belakang saya :) sampai membawakan makanan. :) :) 
Perhatian mereka yang baru saya kenal sehari  itulah awal saya jatuh cinta dengan ukhuwah yang dibangun di lembaga dakwah yang satu ini.
Secara sederhana, dalam satu kelompok  tarbiyah ini biasanya terdiri dari 5 sampai 10 orang mutarabbi dengan jadwal pertemuan setiap pekan. Sebelum memulai pelajaran diawali dengan membaca al-quran secara bergilir masing-masing peserta tarbiyah. Tarbiyah ini terdiri dari tiga kelas atau tingkatan, yaitu ta’rifiyah, takwiniyah dan tanfidziyah. setelah selesai mempelajari semua materi di kelas/tingkatan pertama yaitu ta’rif, peserta tarbiyah akan melewati ujian tertulis / lisan, setelah dinyatakan lulus baru kemudian akan dinaikkan ke kelas takwin. Begitu seterusnya sampai naik ke kelas tanfidz. Untuk materi pelajarannya sendiri berbeda-beda di tiap tingkatan, ibaratnya sekolah, pelajaran kelas satu tentu tidak sama dengan pelajaran kelas 2 dan seterusnya sehingga dalam tarbiyah pun, peserta tabiyah tidak boleh langsung memilih untuk naik ke kelas takwin sebelum melewati kelas ta’rif. Bahkan sekalipun telah melewati kelas ta’rif tapi kalau tidak mengikuti ujian tertulis atau lisan untuk kenaikan kelas maka tetap tidak boleh dinaikkan, mirip dengan system di lembaga pendidikan kita di Indonesia. Yang kalaupun ikut dalam pembelajaran selama dua semester di kelas 1 tapi tidak ikut ujian kenaikan kelas maka tetap tidak bisa naik ke kelas 2. Termasuk jika tidak lulus. Dalam tarbiyahpun ada istilah tidak lulus ujian.
Dari sini saya melihat bahwa liqo’ tarbiyah ini menerapkan model pendidikan  yang sangat sistematis dan terukur. Kenapa bisa, karena yang baru mau belajar ilmu syar’I  tentunya akan ditempatkan dikelas awal yang materinya tentang pengenalan,adab-adab dan dasar-dasar keislaman. Yang belum bisa mengaji diajari mengaji terlebih dulu. Bayangkan jika seorang yang baru belajar mengaji langsung diajari tentang jihad fii sabilillah karena langsung mengikut ke kelas atas tarbiyah?
Model pendidikan islam secara bertahap dalam tarbiyah ini tentunya bukan tanpa landasan syar’I menurut saya. dalam hadits Bukhari Muslim dimana Rasulullah sallallahu ‘alahi washallam bersabda kepada Mu’adz ra.
“sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (yahudi dan nashrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adlah syahadat  Laa Ilaha Illallah, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka mengeluarkan zakat harta untuk diberikan kepada fakir miskin diantara mereka. Maka bila mereka menaati, maka terimalah dan berhati-hatilah. Jangan mengambil harta kesayangan mereka” (HR: Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits tersebut diatas tentunya kita sudah bisa memahami bahwa, sebelum mengajarkan yang lebih jauh lagi tentang islam maka hal pertama yang harus diajarkan adalah masalah tauhid, bukan yang selainnya. Bayangkan jika mereka langsung diajari tentang shalat dan zakat tanpa diajari tauhid sebelumnya?
Pendidikan atau tarbiyah ini menurut saya merupakan sarana dalam mendapatkan ilmu syra’i. yang sepengatahuan saya bahwa sarana dihukumi berdasarkan tujuannya. Jika tujuannya baik maka sarana itu juga baik, begitupun sebaliknya. Kita mendirikan sarana sekolah untuk mengajarkan peserta didik tentang cara memb*n*h orang tua tanpa jejak tentunya akan membuat sekolah itu menjadi sekolah yang buruk dan harus dibubarkan karena tujuannya mengajarkan keburukan. Kita mendirikan sekolah untuk mengajari peserta didik berlaku sopan dan mengenal ilmu agama  misalnya maka sekolah ini tentunya harus dipertahankan.
Allah subhanahu wata’ala saja menciptakan alam semesta ini berjenjang dalam enam masa, padahal tidak ada yang susah bagi Allah untuk menciptakannya dalam satu masa saja dengan kun fayakun-Nya.  Tapi begitulah, berjenjang itu adalah sunnatullah, anda sendiri tidak langsung setua sekrang.
 
contoh kegiatan tarbiyah
Dari luar biasanya konsep tabiyah ini menurut saya ternyata masih ada juga kelompok-kelompok tertentu yang mencela orang-orang yang bekecimpun dalam dunia tarbiyah ini dengan dalih, “kenapa harus berjenjang? Ada juga komentar yang mengatakan bahwa liqo’ tarbiyah di kampus-kampus itu tidak memenuhi syarat dalam menuntut ilmu syar’I karena yang menjadi murabbinya adalah senior dan yang menjadi mutarabbinya adalah junior, padahal dalam menuntut ilmu syar’I itu harus pada orang ‘alim dan memang ahli dalam masalah itu. Wah, ini yang belum saya paham. 
Selama mengikuti tarbiyah di kampus, sepengetahuan saya yang menjadi murabbinya itu tetap ustadz-ustadz yang memang berilmu. Akan tetapi jika jadwal ustadz-ustadz ini sudah full untuk mengisi tarbiyah pada kelompok yang baru maka akan ditangani sementara (ingat: sementara) oleh senior yang memang mendapatkan rekomendasi dari murabbi sampai penanggung jawabnya mengusahakan untuk mencari murabbi yang baru yang lebih kompeten, masa iya saya sebagai senior misalnya, tidak bisa mengajarkan cara shalat atau bersuci hanya karena saya bukan ulama?
Menurut Syaikh Utsaimin Tidak dipersyaratkan bagi seorang da’i harus telah sampai pada derajat ahli ilmu, akan tetapi yang disyaratkan adalah dia mengetahui apa yang dia dakwahkan. Adapun jika dia berdakwah dengan kejahilan dan dibangun atas sikap perasaan sentiment, maka ini tidak boleh”  (sumber: disini).
Saya tidak tahu lah dengan tempat lain, yang jelasnya itu yang saya ketahui dan terapkan selama menjalankan Lembaga Dakwah di kampusku dulu. Dari tarbiyah kami jalankan dakwah di kampus, mengenalkan keislam kepada mahasiswa, memperkuat persaudaraan dan meraih prestasi dikampus.dari tarbiyah kita ditempa, dikampus kita berjuang, disurga kita bersua. insya Allah.

salam tarbiyah, jabat erat.
Share:

Monday, 14 August 2017

Siapa wali Allah itu..???



Wahai saudara-saudariku janganlah kita mempercayai/meyakini/mengamalkan segala sesuatu kecuali setelah kita ketahui bahwa hal tersebut sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah,kalau ada dalilnya maka kita ambil,tapi kalau tidak ada maka kita tinggalkan sebagai bentuk pengamalan kita terhadap apa yang diperintahkan/dilarang oleh Allah dan RasulNya.

Dan salah satu perkara yang banyak tersebar dikalangan masyarakat adalah argumen bahwa jumlah wali Allah  terbatas dengan jumlah tertentu,tapi kalau kita telusuri,tidak ada dalil yang shahih/benar akan pembatasan jumlah tersebut,bahkan berkata Ibnu Taimiyah tentang pembatasan jumlah wali dengan jumlah tertentu misalnya 9,13,40,dan semisalnya,

فليس في ذلك شيء صحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم

"Tidak ada hadits yang shahih dari Nabi shollallahu `alaihi wasallama tentang hal tersebut"lihat Al-Furqon Baina Auliyarrahman wa Auliyasy-syaithan:18

Dan bagaimana  mereka bisa dianggap sebagai wali Allah, padahal kalau kita lihat sejarah,sebagian mereka tidak shalat,atau tidak shalat jam`ah,atau hanya bertapa disuatu tempat tertentu,maka apakah benar mereka wali Allah?

Perlu diketahui bahwa wali ada dua:

Pertama:

Wali Allah,dan mereka telah jelas-jelas disebutkan oleh Allah tentang sifat-sifat mereka sehingga tidak bingung lagi untuk mengetahui siapa sebenarnya wali Allah yang hakiki,Allah berfirman;

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُون لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan katahuilah bahwa para wali Allah tidak akan mendapatkan rasa takut terhadap yang mereka hadapi setelah kematian dan tidak bersedih terhadap apa yang mereka tinggalkan didunia dan mereka(sifat-sifat wali Allah tersebut adalah) mereka percaya pada Allah dan RasulNya serta mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul dari sisi Allah,maka mereka akan mendapatkan kabar gembira didunia dan diakhirat dan sesungguhnya Allah tidak menyelisihi janjiNya dan itu merupakan kemenangan yang sangat agung "Q.s Yunus:72-64

Kedua:

Wali Syaithan yaitu orang-orang yang kafir pada Allah dan RasulNya,serta tidak mrngikuti apa yang disyariatkan oleh Allah,Allah berfirman;

إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

"Dan kami jadikan para syetan sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman "Q.s Al-A`raaf:27
:
Dan jangan kita tertipu dengan kejadian yang mereka lakukan diluar kemampuan manusia biasa seperti bisa terbang,bisa berjalan diair,atau bisa keka`bah langsung tanpa naik pesawat karena mereka dibawa terbang oleh syetan,dan yang melakukan hal tersebut ada dua kemungkinan sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Al-Imam;

(1)Seorang yang belum mengetahui tipu daya syetan atasnya dan semisalnya,dan terkadang syetan datang kepadanya dan mengaku malaikat utusan dari Allah,atau Jin yang shalih yang mesti membantunya dalam kebaikan,maka ini berbahaya karena syetan tersebut menuntutnya untuk menjadi tukang sihir,mengaku nabi l,dst.

(2)Dibawa oleh syetan karena dia merupakan pembantu mereka,seperti tukang sihir,agar mereka terkenal dikalangan manusia bahwa dia orang mempunyai karamah,lihat Al-Majmul-Tsamiin fi Ahkamir Ruqo,wal-Jin,wasy-Syaithon 35

✍🏻 Al Ustadz Abu Bakr Rofi -hafidzohullahu-

Ma'bar, Yaman
===================
Share: