Wednesday, 7 October 2020

Menjadi Pelayan Allah ﷻ

 


Rasulullah pernah melakukan shalat hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya tentang hal itu beliau menjawab “tidak bolehkakh aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Yahya bin Muadz berkata “barang siapa yang senang melayani Allah , segala sesuatu akan senang melayaninya, barang siapa matanya senang kepada Allah, setiap mata akan senang melihatnya.

Ibnu Mas’du pernah berkata kepada seseorang, “obatilah hatimu, karena tuntutan Allah kepada para hamba adalah kebaikan hati mereka”.

Maksudnya, keinginan dan tuntutan-Nya kepada mereka. Sementara itu,baiknya hati adalah dengan memenuhinya dengan kecintaan kepada Allah , barang siapayang cinta kepada Allah , ia akan senang melayaninya. Selanjutnya, pelayanannya kepada Allah akan menjadi energi hati dan makanan jiwanya. Seperti ungkapan seorang penyair:

Jadilah orang yang senang melayani Rabb mu

Karena orang orang yang jatuh cinta ialah pelayan bagi para kekasihnya

Ibnu Mubarak berkata:

Éngkau bermaksiat kepada Allah, tapi engkau mengharap cintanya

Sungguh sebuah perumpamaan yang indah

Bila cintamu jujur, niscaya engkau akan menaati-Nya

Karena orang yang jatuh cinta biasanya akan taat pada orang yang dicintainya

Kerinduan melayani Allah melebihi kerinduan orang lapar terhadap makanan dan minuman.apabila seorang hamba telah merasakan manisnya interaksi dengan Allah dengan melanggengkan ketaatan, ia akan cinta terhadap ketaatan. Sedikitpun ia tidak bisa lepas darinya.

Bila ia mendapati dirinya menganggur dan tidak melaksanakan ketaatan kepada Allah dadanya terasa sempit. Disamping itu, ia memperoleh motivasi dalam hatinya yang menyuruhnya u tuk berbuat taat kepada Allah.

Seorang wanita salaf berpetuah kepada anak-anaknya:

“biasakanlah diri kalian mencintai dan menaati Allah, sebab orang-orang bertakwa itu jinak (baca:senang) dengan ketaatan dan anggota badan mereka buas (baca:enggan) dengan selain ketaatan. Jika setan menawari maksiat kepada mereka, maksiat tersebut melewatinya sembari merasa malu karena mereka mengingkarinya”


sumber: buku tazkiyatun nafs (penyucian jiwa dalam islam - Dr Ahmad Farid

Share:

0 komentar:

Post a comment