Monday, 16 October 2017

Ada Apa Dengan Liqo' Tarbiyah di Wahdah Islamiyah?


Liqo' Tarbiyah Mahasiswa


Ada apa dengan liqo’ tarbiyah? Istilah liqo’ tarbiyah akhir-akhir ini menjadi pembahasan yang sering diperbincangkan baik di dunia nyata apalagi di dunia maya saat ini. Saya sendiri pertama kali mendengar kata liqo’ tarbiyah ini sejak  tahun 2013 lalu di kampus. Waktu itu di Universitas Sulawesi Barat Majene.
Saya sedikit ingin menuangkan isi pikiran saya di hari yang melelahkan ini tentang Liqo’ Tarbiyah.
Istilah liqo’ tarbiyah atau tarbiyah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan (secara spesifik mengajarkan tentang ilmu-ilmu syar’i), orang yang mendidik dinamakan murabbi dan orang yang di didik disebut mutarabbi. Saya sendiri saat ini telah masuk tahun ke5 menjadi peserta didik (mutarabbi) dalam tarbiyah ini. Iya, saya mengenalnya dari ormas islam Wahdah Islamiyah dan orang yang menjadi pendidik (murabbi) –nya pun adalah ustadz dari Wahdah Islamiyah. Ikut dalam liqo’ tarbiyah inipun awalnya iseng-iseng setelah seringnya mendapatkan undangan ta’lim dari para senior yang setiap pekannya mengirimkan info ta’lim di kampus lewat SMS. Waktu datang pertama kali di markas dakwah Wahdah Islamiyah, saya sendiri kagum dengan sambutan mereka yang antusias dengan kehadiran saya, padahal saat itu saya agak minder duduk bermajelis dengan mereka karena pakaian saya yang saat itu ala-ala mahasiswa. Tapi begitulah karakter mereka dalam memperhatikan objek dakwahnya. Terlebih saat saya sedang sakit di kost waktu itu, dimana saya hanya tingal sendiri jauh dari orang tua, mereka bergantian datang, mulai dari sekedar memijit belakang saya :) sampai membawakan makanan. :) :) 
Perhatian mereka yang baru saya kenal sehari  itulah awal saya jatuh cinta dengan ukhuwah yang dibangun di lembaga dakwah yang satu ini.
Secara sederhana, dalam satu kelompok  tarbiyah ini biasanya terdiri dari 5 sampai 10 orang mutarabbi dengan jadwal pertemuan setiap pekan. Sebelum memulai pelajaran diawali dengan membaca al-quran secara bergilir masing-masing peserta tarbiyah. Tarbiyah ini terdiri dari tiga kelas atau tingkatan, yaitu ta’rifiyah, takwiniyah dan tanfidziyah. setelah selesai mempelajari semua materi di kelas/tingkatan pertama yaitu ta’rif, peserta tarbiyah akan melewati ujian tertulis / lisan, setelah dinyatakan lulus baru kemudian akan dinaikkan ke kelas takwin. Begitu seterusnya sampai naik ke kelas tanfidz. Untuk materi pelajarannya sendiri berbeda-beda di tiap tingkatan, ibaratnya sekolah, pelajaran kelas satu tentu tidak sama dengan pelajaran kelas 2 dan seterusnya sehingga dalam tarbiyah pun, peserta tabiyah tidak boleh langsung memilih untuk naik ke kelas takwin sebelum melewati kelas ta’rif. Bahkan sekalipun telah melewati kelas ta’rif tapi kalau tidak mengikuti ujian tertulis atau lisan untuk kenaikan kelas maka tetap tidak boleh dinaikkan, mirip dengan system di lembaga pendidikan kita di Indonesia. Yang kalaupun ikut dalam pembelajaran selama dua semester di kelas 1 tapi tidak ikut ujian kenaikan kelas maka tetap tidak bisa naik ke kelas 2. Termasuk jika tidak lulus. Dalam tarbiyahpun ada istilah tidak lulus ujian.
Dari sini saya melihat bahwa liqo’ tarbiyah ini menerapkan model pendidikan  yang sangat sistematis dan terukur. Kenapa bisa, karena yang baru mau belajar ilmu syar’I  tentunya akan ditempatkan dikelas awal yang materinya tentang pengenalan,adab-adab dan dasar-dasar keislaman. Yang belum bisa mengaji diajari mengaji terlebih dulu. Bayangkan jika seorang yang baru belajar mengaji langsung diajari tentang jihad fii sabilillah karena langsung mengikut ke kelas atas tarbiyah?
Model pendidikan islam secara bertahap dalam tarbiyah ini tentunya bukan tanpa landasan syar’I menurut saya. dalam hadits Bukhari Muslim dimana Rasulullah sallallahu ‘alahi washallam bersabda kepada Mu’adz ra.
“sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (yahudi dan nashrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adlah syahadat  Laa Ilaha Illallah, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka mengeluarkan zakat harta untuk diberikan kepada fakir miskin diantara mereka. Maka bila mereka menaati, maka terimalah dan berhati-hatilah. Jangan mengambil harta kesayangan mereka” (HR: Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits tersebut diatas tentunya kita sudah bisa memahami bahwa, sebelum mengajarkan yang lebih jauh lagi tentang islam maka hal pertama yang harus diajarkan adalah masalah tauhid, bukan yang selainnya. Bayangkan jika mereka langsung diajari tentang shalat dan zakat tanpa diajari tauhid sebelumnya?
Pendidikan atau tarbiyah ini menurut saya merupakan sarana dalam mendapatkan ilmu syra’i. yang sepengatahuan saya bahwa sarana dihukumi berdasarkan tujuannya. Jika tujuannya baik maka sarana itu juga baik, begitupun sebaliknya. Kita mendirikan sarana sekolah untuk mengajarkan peserta didik tentang cara memb*n*h orang tua tanpa jejak tentunya akan membuat sekolah itu menjadi sekolah yang buruk dan harus dibubarkan karena tujuannya mengajarkan keburukan. Kita mendirikan sekolah untuk mengajari peserta didik berlaku sopan dan mengenal ilmu agama  misalnya maka sekolah ini tentunya harus dipertahankan.
Allah subhanahu wata’ala saja menciptakan alam semesta ini berjenjang dalam enam masa, padahal tidak ada yang susah bagi Allah untuk menciptakannya dalam satu masa saja dengan kun fayakun-Nya.  Tapi begitulah, berjenjang itu adalah sunnatullah, anda sendiri tidak langsung setua sekrang.
 
contoh kegiatan tarbiyah
Dari luar biasanya konsep tabiyah ini menurut saya ternyata masih ada juga kelompok-kelompok tertentu yang mencela orang-orang yang bekecimpun dalam dunia tarbiyah ini dengan dalih, “kenapa harus berjenjang? Ada juga komentar yang mengatakan bahwa liqo’ tarbiyah di kampus-kampus itu tidak memenuhi syarat dalam menuntut ilmu syar’I karena yang menjadi murabbinya adalah senior dan yang menjadi mutarabbinya adalah junior, padahal dalam menuntut ilmu syar’I itu harus pada orang ‘alim dan memang ahli dalam masalah itu. Wah, ini yang belum saya paham. 
Selama mengikuti tarbiyah di kampus, sepengetahuan saya yang menjadi murabbinya itu tetap ustadz-ustadz yang memang berilmu. Akan tetapi jika jadwal ustadz-ustadz ini sudah full untuk mengisi tarbiyah pada kelompok yang baru maka akan ditangani sementara (ingat: sementara) oleh senior yang memang mendapatkan rekomendasi dari murabbi sampai penanggung jawabnya mengusahakan untuk mencari murabbi yang baru yang lebih kompeten, masa iya saya sebagai senior misalnya, tidak bisa mengajarkan cara shalat atau bersuci hanya karena saya bukan ulama?
Menurut Syaikh Utsaimin Tidak dipersyaratkan bagi seorang da’i harus telah sampai pada derajat ahli ilmu, akan tetapi yang disyaratkan adalah dia mengetahui apa yang dia dakwahkan. Adapun jika dia berdakwah dengan kejahilan dan dibangun atas sikap perasaan sentiment, maka ini tidak boleh”  (sumber: disini).
Saya tidak tahu lah dengan tempat lain, yang jelasnya itu yang saya ketahui dan terapkan selama menjalankan Lembaga Dakwah di kampusku dulu. Dari tarbiyah kami jalankan dakwah di kampus, mengenalkan keislam kepada mahasiswa, memperkuat persaudaraan dan meraih prestasi dikampus.dari tarbiyah kita ditempa, dikampus kita berjuang, disurga kita bersua. insya Allah.

salam tarbiyah, jabat erat.
Share:

0 komentar:

Post a comment