Wednesday, 25 October 2017

Sambangi Kediaman B.J. Habibie, Anies Sandi diberi Jeket Bomber


image source

Gubernur DKI JakartaAnies Baswedan bersama dengan wakil gubernur Sandiaga Uno menyambangi kediaman Presiden RI ke 3 B.J. Habibie pada Rabu/25/17. kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memohon doa restu sekaligus berdiskusi dengan mantan presiden yang terkenal sebgaia seorang Ilmuwan pemegang 46 hak paten di bidang Aeronautika tersebut. dalam pertemuan itu Habibie tidak lupa berpesan kepada gubernur dan wakil gubernur yang baru dilantik ini untuk terus memperhatikan pengembangan sumber daya manusia.  berikut pernyataan yang kami kutip dari Fanspage  Anies Baswedan berikut ini:
Hari ini bersama Bang Sandiaga Salahuddin Uno menyambangi kediaman Presiden RI ke-3, B.J. Habibie, untuk memohon doa restu dan berdiskusi. Pada kesempatan tersebut, Pak Habibie ingatkan agar kami terus memperhatikan pengembangan sumber daya manusia, yang juga sudah menjadi prioritas kami.
Pak Habibie lalu memberikan jaket bomber milik penggalangan dana pesawat R80. Pesawat R80 murni buatan Indonesia, dan beliau adalah arsiteknya. Penggalangan dana dilakukan agar kita yang sudah berbangga juga dapat turut serta mendukung kebangkitan teknologi di negeri ini.
image source
 Postingan ini sontak mengundang reaksi warganet yang salut melihat  melihat keakraban anatara Anies Sandi dengan presiden ke-3 RI tersebut.
Share:

Monday, 16 October 2017

Ada Apa Dengan Liqo' Tarbiyah di Wahdah Islamiyah?


Liqo' Tarbiyah Mahasiswa


Ada apa dengan liqo’ tarbiyah? Istilah liqo’ tarbiyah akhir-akhir ini menjadi pembahasan yang sering diperbincangkan baik di dunia nyata apalagi di dunia maya saat ini. Saya sendiri pertama kali mendengar kata liqo’ tarbiyah ini sejak  tahun 2013 lalu di kampus. Waktu itu di Universitas Sulawesi Barat Majene.
Saya sedikit ingin menuangkan isi pikiran saya di hari yang melelahkan ini tentang Liqo’ Tarbiyah.
Istilah liqo’ tarbiyah atau tarbiyah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti pendidikan (secara spesifik mengajarkan tentang ilmu-ilmu syar’i), orang yang mendidik dinamakan murabbi dan orang yang di didik disebut mutarabbi. Saya sendiri saat ini telah masuk tahun ke5 menjadi peserta didik (mutarabbi) dalam tarbiyah ini. Iya, saya mengenalnya dari ormas islam Wahdah Islamiyah dan orang yang menjadi pendidik (murabbi) –nya pun adalah ustadz dari Wahdah Islamiyah. Ikut dalam liqo’ tarbiyah inipun awalnya iseng-iseng setelah seringnya mendapatkan undangan ta’lim dari para senior yang setiap pekannya mengirimkan info ta’lim di kampus lewat SMS. Waktu datang pertama kali di markas dakwah Wahdah Islamiyah, saya sendiri kagum dengan sambutan mereka yang antusias dengan kehadiran saya, padahal saat itu saya agak minder duduk bermajelis dengan mereka karena pakaian saya yang saat itu ala-ala mahasiswa. Tapi begitulah karakter mereka dalam memperhatikan objek dakwahnya. Terlebih saat saya sedang sakit di kost waktu itu, dimana saya hanya tingal sendiri jauh dari orang tua, mereka bergantian datang, mulai dari sekedar memijit belakang saya :) sampai membawakan makanan. :) :) 
Perhatian mereka yang baru saya kenal sehari  itulah awal saya jatuh cinta dengan ukhuwah yang dibangun di lembaga dakwah yang satu ini.
Secara sederhana, dalam satu kelompok  tarbiyah ini biasanya terdiri dari 5 sampai 10 orang mutarabbi dengan jadwal pertemuan setiap pekan. Sebelum memulai pelajaran diawali dengan membaca al-quran secara bergilir masing-masing peserta tarbiyah. Tarbiyah ini terdiri dari tiga kelas atau tingkatan, yaitu ta’rifiyah, takwiniyah dan tanfidziyah. setelah selesai mempelajari semua materi di kelas/tingkatan pertama yaitu ta’rif, peserta tarbiyah akan melewati ujian tertulis / lisan, setelah dinyatakan lulus baru kemudian akan dinaikkan ke kelas takwin. Begitu seterusnya sampai naik ke kelas tanfidz. Untuk materi pelajarannya sendiri berbeda-beda di tiap tingkatan, ibaratnya sekolah, pelajaran kelas satu tentu tidak sama dengan pelajaran kelas 2 dan seterusnya sehingga dalam tarbiyah pun, peserta tabiyah tidak boleh langsung memilih untuk naik ke kelas takwin sebelum melewati kelas ta’rif. Bahkan sekalipun telah melewati kelas ta’rif tapi kalau tidak mengikuti ujian tertulis atau lisan untuk kenaikan kelas maka tetap tidak boleh dinaikkan, mirip dengan system di lembaga pendidikan kita di Indonesia. Yang kalaupun ikut dalam pembelajaran selama dua semester di kelas 1 tapi tidak ikut ujian kenaikan kelas maka tetap tidak bisa naik ke kelas 2. Termasuk jika tidak lulus. Dalam tarbiyahpun ada istilah tidak lulus ujian.
Dari sini saya melihat bahwa liqo’ tarbiyah ini menerapkan model pendidikan  yang sangat sistematis dan terukur. Kenapa bisa, karena yang baru mau belajar ilmu syar’I  tentunya akan ditempatkan dikelas awal yang materinya tentang pengenalan,adab-adab dan dasar-dasar keislaman. Yang belum bisa mengaji diajari mengaji terlebih dulu. Bayangkan jika seorang yang baru belajar mengaji langsung diajari tentang jihad fii sabilillah karena langsung mengikut ke kelas atas tarbiyah?
Model pendidikan islam secara bertahap dalam tarbiyah ini tentunya bukan tanpa landasan syar’I menurut saya. dalam hadits Bukhari Muslim dimana Rasulullah sallallahu ‘alahi washallam bersabda kepada Mu’adz ra.
“sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (yahudi dan nashrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adlah syahadat  Laa Ilaha Illallah, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka mengeluarkan zakat harta untuk diberikan kepada fakir miskin diantara mereka. Maka bila mereka menaati, maka terimalah dan berhati-hatilah. Jangan mengambil harta kesayangan mereka” (HR: Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits tersebut diatas tentunya kita sudah bisa memahami bahwa, sebelum mengajarkan yang lebih jauh lagi tentang islam maka hal pertama yang harus diajarkan adalah masalah tauhid, bukan yang selainnya. Bayangkan jika mereka langsung diajari tentang shalat dan zakat tanpa diajari tauhid sebelumnya?
Pendidikan atau tarbiyah ini menurut saya merupakan sarana dalam mendapatkan ilmu syra’i. yang sepengatahuan saya bahwa sarana dihukumi berdasarkan tujuannya. Jika tujuannya baik maka sarana itu juga baik, begitupun sebaliknya. Kita mendirikan sarana sekolah untuk mengajarkan peserta didik tentang cara memb*n*h orang tua tanpa jejak tentunya akan membuat sekolah itu menjadi sekolah yang buruk dan harus dibubarkan karena tujuannya mengajarkan keburukan. Kita mendirikan sekolah untuk mengajari peserta didik berlaku sopan dan mengenal ilmu agama  misalnya maka sekolah ini tentunya harus dipertahankan.
Allah subhanahu wata’ala saja menciptakan alam semesta ini berjenjang dalam enam masa, padahal tidak ada yang susah bagi Allah untuk menciptakannya dalam satu masa saja dengan kun fayakun-Nya.  Tapi begitulah, berjenjang itu adalah sunnatullah, anda sendiri tidak langsung setua sekrang.
 
contoh kegiatan tarbiyah
Dari luar biasanya konsep tabiyah ini menurut saya ternyata masih ada juga kelompok-kelompok tertentu yang mencela orang-orang yang bekecimpun dalam dunia tarbiyah ini dengan dalih, “kenapa harus berjenjang? Ada juga komentar yang mengatakan bahwa liqo’ tarbiyah di kampus-kampus itu tidak memenuhi syarat dalam menuntut ilmu syar’I karena yang menjadi murabbinya adalah senior dan yang menjadi mutarabbinya adalah junior, padahal dalam menuntut ilmu syar’I itu harus pada orang ‘alim dan memang ahli dalam masalah itu. Wah, ini yang belum saya paham. 
Selama mengikuti tarbiyah di kampus, sepengetahuan saya yang menjadi murabbinya itu tetap ustadz-ustadz yang memang berilmu. Akan tetapi jika jadwal ustadz-ustadz ini sudah full untuk mengisi tarbiyah pada kelompok yang baru maka akan ditangani sementara (ingat: sementara) oleh senior yang memang mendapatkan rekomendasi dari murabbi sampai penanggung jawabnya mengusahakan untuk mencari murabbi yang baru yang lebih kompeten, masa iya saya sebagai senior misalnya, tidak bisa mengajarkan cara shalat atau bersuci hanya karena saya bukan ulama?
Menurut Syaikh Utsaimin Tidak dipersyaratkan bagi seorang da’i harus telah sampai pada derajat ahli ilmu, akan tetapi yang disyaratkan adalah dia mengetahui apa yang dia dakwahkan. Adapun jika dia berdakwah dengan kejahilan dan dibangun atas sikap perasaan sentiment, maka ini tidak boleh”  (sumber: disini).
Saya tidak tahu lah dengan tempat lain, yang jelasnya itu yang saya ketahui dan terapkan selama menjalankan Lembaga Dakwah di kampusku dulu. Dari tarbiyah kami jalankan dakwah di kampus, mengenalkan keislam kepada mahasiswa, memperkuat persaudaraan dan meraih prestasi dikampus.dari tarbiyah kita ditempa, dikampus kita berjuang, disurga kita bersua. insya Allah.

salam tarbiyah, jabat erat.
Share:

Wednesday, 4 October 2017

Viral, Surat balasan Presiden Soeharto kepada Seorang anak di Bone pada tahun 1996



Sebuah surat sempat viral beberapa hari yang lalu di media sosial. surat ini tentunya bukan surat biasa, surat yang bernomor B-206/Setneg/D/III/1996 ini adalah merupakan surat balasan presiden kedua Republik Indonesia Soeharto kepada seorang anak perempuan yang bernama Santi di Kecamatan Sibulue Kotif Bone, Sulawesi Selatan. surat ini sendiri dikirim kepada Santi pada tanggal 27 Maret tahun 1996 yang merupakan surat balasan yang pernah dikirimkan oleh Santi kepada Presiden Soharto pada tanggal 21 Desember 1995.
Bersama dengan surat itu juga Presiden Soeharto mengirimkan fotonya beserta dengan keluarga lengkap dengan tanda tangan serta sepuluh lembar perangko bekas dalam dan luar negeri. ternyata hadiah itu adalah sebagai kenang-kenangan ulang tahun Santi dari Presiden. seperti apa isi suratnya?

foto ini viral, kami kesulitan mencantumkan sumber pertamanya

Sepertinya anak ini adalah salah satu anak yang beruntung mendapat surat balasan dari seorang presiden, terlebih lagi dengan tambahan hadiah kenang-kenangan untuk ulang tahunnya. dalam surat ini juga presiden Soeharto berpesan kepada Santi agar rajin belajar...
Share:

Sunday, 1 October 2017

Terbentuk 3 halaqah, Mahasiswa Peserta TM LDK Al-Qalam USB Siap Tarbiyah


MAJENE – Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Qalam Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) sukses menyelenggarakan Training motivasi dengan tema ‘Menyongsong Generasi Gemilang dengan Cahaya Alquran’ di Gedung Tasha Center Majene, pada Ahad (1/10) siang tadi.
Training Motivasi ini dibuka secara resmi oleh Umar Sahab, selaku pembina LDK Al-Qalam Unsulbar.
“Salah satu kegiatan yg harus ada setiap bulannya agar mahasiswa khususnya di Unsulbar mempunyai benteng Iman dan batasan pergaulan” tutur dosen jurusan Bahasa Inggris Unsulbar ini.
Kegiatan ini menghadirkan tiga materi yakni Hakikat dan Hikmah Kehidupan oleh Ustadz Muslimin, Gaul dengan Alquran oleh Ustadz Umar Masyhud, dan Mulia Menuntut Ilmu oleh Ustadz Supardi.
Wawan Saputra, selaku panitia pelaksana Training mengatakan bahwa seluruh peserta yang hadir berjumlah 30 orang dan selanjutnya akan mengikuti follow up kegiatan.
“Alhamdulillah terbentuk tiga halaqah, kesemuanya akan mengikuti belajar islam pekanan yang akan dilaksanakan rutin” tambah mahasiswa Biologi Unsulbar ini. (*rh)
LIDMI Sul-Bar
Share:

Waspada PKI di kampus, LDK di UNM gelar Nobar film G30S/PKI




MAKASSAR –Mewaspadai penyebaran paham komunis, terkhusus bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI), Lembaga Dakwah Kampus Forum Studi Islam Raudhatul Ilmi Universitas Negeri Makassar (LDK FSI RI UNM) menyelenggarakan nonton bersama (nobar) film pemberontakan Gerakan 30 September (G30S)/ PKI, dengan tema mengingat sejarah kelam tragedi G30S/PKI.
Nobar dilaksanakan sederhana di pekarangan masjid kampus Ulil Albab UNM mulai pukul 21.30 sampai selesai yang dihadiri puluhan mahasiswa dan petugas keamanan kampus, pada Sabtu (30/9).
Zulkifli Tri Darmawan, selaku staff departemen Hubungan Masyarakat FSI RI UNM, mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan untuk mengingatkan mahasiswa akan bahaya laten komunis.
“kita mencoba mengambil hikmah tentang sejarah kelam itu untuk dijadikan pembelajaran kedepannya” tambah Zulkifli.
Senada dengan itu, Rustam Hafid, selaku ketua pengurus masjid kampus Ulil Albab UNM mengatakan sangat mendukung penyelenggaraaan nobar ini.
“Kami sudah mendapatkan izin dari birokrasi kampus sebelumnya, yakni Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan UNM” ujar mahasiswa Jurusan Fisika ini.
Pada hari ahad (1/8), LDK FSI RI UNM akan mengadakan Kajian Kotemporer membahas Bahaya Syiah dan Komunis di tempat yang sama yang akan dirangkaikan dengan buka bersama puasa Asyura. (*rh)

artikel asli: LIDMI
Share: