Klik disini

Friday, 4 August 2017

Syafi'i Ma'arif: "Arabisme Sesat" memperparah radikalisme di indonesia


Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Buya Syafii (Ahmad Syafii Maarif) menjadi pembicara dalam dialog lintas iman yang dihadiri uskup-uskup di kawasan Asia. Acara Asian Youth Day ke-7 itu berlangsung di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Kamis 3 Agustus 2017. Asian Youth Day merupakan sebuah ajang pertemuan pemuda Katolik se-Asia mulai 2-6 Agustus 2017 diikuti oleh 22 perwakilan negara Asia seperti India, Bangladesh, Malaysia dan lainnya.

Di depan para uskup itu, Buya Syafii mengungkapkan pandangannya tentang penyebab Indonesia menjadi salah satu negara tempat tumbuh suburnya intoleransi, terorisme dan juga radikalisme. Pendiri Ma’arif Institute itu menuturkan, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tumbuhnya radikalisme itu. Salah satunya ketidakadilan sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia juga korupsi yang masih marak.  “Hal itu ditambah parah akibat masuknya ideologi impor yang saya sebut misguided Arabism (Arabisme sesat),” ujar Buya. 


Contoh Arabisme sesat itu, ujar Buya, berwujud seperti gerakan Negara Islam di Irak Suriah (ISIS) dan juga Boko Haram di Afrika.  Namun, ujar Buya, mengapa sebagian muslim Indonesia terpengaruh oleh gerakan ideologi impor sesat itu? Buya menuturkan, mereka yang terpengaruh ideologi itu karena meyakini bahwa arabisme adalah bagian dari Islam.
“Dan orang orang Arab dianggap lebih mengerti Islam dibandingkan bangsa kami, padahal itu tidak benar, ” ujar Buya. Buya menegaskan bahwa tak semua umat Islam menyetujui gerakan-gerakan radikal itu.



 “Tentu orang Arab fasih berbahasa Arab dan mereka bisa menghafal Al Quran dengan mudah. Tapi apakah mereka betul-betul memahami makna sebenarnya dari isi Al Quran?” ujar Buya.

Buya Syafii menambahkan, jika orang-orang Arab penganut ideologi sesat itu benar-benar  memahami Al Quran, tentu tidak akan membunuh sesamanya. “Faktanya, ISIS membunuh jauh lebih banyak umat Islam, itu apa? Bagi saya, arabisme sesat itulah musuh terbesar Islam,” ujar Buya. 


Kepada para uskup itu, Buya menegaskan, bahwa Al Quran sebenarnya adalah kitab suci paling toleran di dunia. Asal dipahami dan ditafsirkan dengan benar.  Pernyataan Buya itu mengacu pada Surat Yunus ayat 99 yang tak dimiliki oleh kitab suci apa pun. 

Buya Syafii menuturkan, inti ayat itu berbunyi  “‘Sekiranya Tuhanmu menghendaki, maka akan berimanlah seluruh penduduk bumi, apakah engkau Muhammad, ingin memaksa manusia agar beriman? Itu bukan tugasmu!’ ujar Buya. "Tapi kelakuan sebagian kecil umat memilih mengkhianati ajaran Al Quran itu demi syahwat kekuasaannya, Tuhan telah dibajak mereka.” 


Klik link dibawah untuk melihat artikel asli
Share:

0 komentar:

Post a comment

Blog archive