Friday, 18 August 2017

Cara Mudah "membunuh" orang



Dalam Hal-Hal Tertentu, Ada kemiripan antara katak dan manusia, beberapa otot keduanya mirip. Misalnya, otot betis keduanya memiliki asal, tempat perlekatan dan fungsi yang sama. Sebagian otot badan keduanya juga demikian. Organ-organ dalam keduanya juga hampir mirip. Oleh karena itu, mahasiswa kedokteran yang baru tahun pertama diajari anatomi katak sebelum diajari anatomi manusia. Jauh lebih murah biayanya dan lebih rendah resikonya dan jauh lebih mudah cara membedah katak daripada membedah manusia. Hitung-hitung, habis dipakai, katak ini bisa dijadikan makanan ikan atau ayam. Kalau ada yang mau dan berani, daging katak ini bisa menjadi gorengan yang empuk.
Dibeberapa bagian dunia, paha katak dijadikan sajian yang sangat lezat. Ekspor daging katak dari indonesia cukup besar. Tidak heran jika 400 spesies katak dinusantara, ada beberapa spesies yang telah punah karena diburu, dibunuh, dan diekspor. Ada lebih banyak katak di Papua dibandingkan dibagian barat nusantara. Tersedikit ada dikepulauan sunda kecil.
Membunuh katak itu gampang-gampang susah, kami diajari bagaimana membunuh katak dengan menikam bagian belakang leher hingga mencapai lubang tempat masuknya saraf-saraf dari tulang belakang ke kepala, dengan cara ini katak biasanya mati secara tiba-tiba. Satu tikaman menghasilkan satu tarikan nafas terakhir. Dengan cara ini, katak mati dengan cara kaget, tersiksa dan cenderung meronta. Beberapa kali terjadi katak melompat di dalam laboratorium dengan jarum yang menancap di belakang lehernya dan lolos melompat keluar ruangan. Adakalanya katak pura-pura mati setelah penikam dicabut dari lehernya.
Seorang kawan mengajari saya bagaimana membunuh katak, dijamin tidak ada perlawanan, kaget apalagi sampai lari melompat keluar ruangan. Alih-alih katak malah keenakan, padahal ia sedang dibunuh dan ia menikmati pembunuhan itu. Bagi katak, ini adalah cara mudah untuk mati. Mudah karena anda tidak perlu menikam di daerah foramen magnum-nya. Anda tidak perlu benda penikam atau benda tajam lainnya. Anda cukup memasukkannya kedalam kaleng berisi air dingin yang disukainya, perlahan-lahan anda panaskan kaleng itu, biarkan air dalam kaleng itu panas dan suhunya naik sedikit demi sedikit hingga mendidih, beberapa saat kemudian, lihatlah, katak sudah mati dan tanpa perlawanan sedikitpun. Ini adalah mati nyaman gaya katak.

“membunuh” dengan pujian

Dalam beberapa hal, kita kadang-kadang bertingkah seperti katak.. kita ‘dibunuh” tanpa kita sadari, bahkan matipun dalam keadaan tertawa, pada tempat dan suasana yang menyenangkan, diiringi kata-kata yang indah dengan acungan dua jari jempol. Saya sering memperhatikan bagaimana dua jari jempol yang biasanya digunakan untuk puji-pujian justru lebih tajam daripada sebilah belati. Pujian membuat kita terlena, bahkan jika diulang-ulang sampai beberapa kali maka kita akan melayang-layang tinggi.
Kebanyakan raja, tokoh atau pemimpin jatuh bukan karena kritik dari luar tetapi pujian yang berlebih-lebihan dari orang dekat. Apalagi jika pujian itu dikemas dengan sedikit kata-kata ilmiah nan palsu. Konon, Gus Dur sewaktu menjadi presiden pernah mengalami fenomena “pembunuhan katak” ini, ketika itu, ribuan orang sudah berkumpul didepan istana. Ketika ia bertanya kepada orang dekatnya, informasi yang diteria Gus Dur adalah hanya segelintir orang yang ada di depan istana. Ia kemudian mengabaikan demonstran itu. Walhasil, Gus Dur jatuh dan diganti oleh Megawati. Ir. Seokarno dalam masa-masa akhir jabatannya sebagai presiden juga mengalami fenomena pembunuhan katak. Seoharto pun, presiden yang hampir tak terjatuhkan bahkan jatuh karena fenomena pembunuhan katak yang dilakukan oleh orang-orang dekatnya. Ingatkah anda bagaimana salah seorang menterinya, orang yang mungkin paling dekat dengan keluarga Soeharto, menyampaikan bahwa seluruh rakyat indonesia masih mendukung Soeharto? Sementara fakta dilapangan menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang tidak suka sama Soeharto.
Sudah menjadi tabiat manusia yang suka dengan puji-pujian. Semua orang cenderung tidak suka dikritik apalagi dimaki dan dikata-katai. Hati manusia lebih terharu pada pujian dibandingkan dengan kritikan, pengkritik umumnya dianggap musuh. Jika ada seseorang yang menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan ditelinga, hampir sebagian besar dari kita merespon secara reaktif. Respon amygdala (bagian otak yang berurusan dengan emosi dan instink) mendahului respon cerebri (yang mengurusi nalar dan rasionalitas). Orang yang tidak terbiasa di kritik, reaktif atau tidak biasa berbeda pendapat, mengembangkan hubungan yang lebih kuat dan padat antara stasiun relai otak bernama Thalamus  menuju pusat emosi otak (amygdala), dibandingkan dengan pusat nalar dan rasionalitas (cortex cerebry). Joseph leDoux, seorang ahli otak yang penemuan-penemuannya menjadi dasar teori kecerdasan emosi dari Daniel Goleman, menyebutkan gejala ini sebagai pembajakan amygdala. Artinya, ketika kita menanggapi suatu masalah, rasionalitas dan nalar kita seringkali dibajak oleh emosi dan insting kita.
Pembajakan emosi itu melahirkan dua hal yang sangat kentara pada kebanyakan tokoh, raja atau pemimpin yang jatuh dari kekuasaannya. Pertama: mereka senang sekali dengan puji-pujian. Kedua: mereka reaktif terhadap kritikan atau masukkan yang tampak tidak menyenangkan. Tokoh, raja atau pemimpin seperti ini mengalami “pembunuhan katak” yang dialkukan segelintir orang dekat, kerabat, pembisik, ataupun pencari muka disekitar mereka.

)* Manajemen Kecerdasan, Taufik Pasiak.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Blog Archive