Klik disini

Wednesday, 16 August 2017

Baca dan renungkan !!! Ketika mesin pesawat tiba-tiba mati di atas ketinggian 5.000 kaki



Sekiranya sekarang anda berada 5.000 kaki diatas permukaan laut, duduk santai dalam pesawat garuda dengan mesin jetnya yang canggih, bersenda gurau dengan istri, anak, saudara, teman ataukah pacar anda. Kepada siapakah anda akan menggantungkan diri anda sekiranya saat itu mesin pesawat tiba-tiba mati? Kehilangan kendali, menjadi hampa udara, orang-rang menjadi panik, dan kepada siapa anda harus minta tolong? Taruhlah misalnya anda adalah seorang professor, doctor, jenderal, karateka dan seabrek kata yang berkedudukan tinggi lainnya. Seorang konglomerat terkaya di Manado, menteri ataukah gubernur. Adakah semua atribut ini dapat menolong anda? Boleh jadi asalkan semua atribut yang melekat pada anda yang kuat secara spiritual, anda akan tenang dan santai saja apapun yang terjadi.
Bagaimana jika seandainya anda adalah orang yang menggantungkan hidup pada kekuasaan yang anda punya, sementara anda ringkih dan lemah secara spiritual? Saya yakin anda akan panik dan kehilangan kendali diri. Anda akan berteriak dan lari kesana kemari tanpa bisa melakukan hal yang berguna. Dalam situasi begini, kita akan menjadi manusia sesungguhnya. Artinya, kelemahan-kelemahan manusiawi kita akan muncul dengan sangat jelas. Gelar, pangkat dan jabatan menjadi nisbi dan tidak berharga.
Saya pernah memiliki seorang kawan  yang tidak pernah merasa susah karena dia adalah anak seorang pejabat dan sekaligus keturunan orang kaya. Dengan sekali kibasan tangan, apapun bisa ia peroleh. Ia hidup dalam gelimang uang dan kekuasaan yang tidak terjamah oleh kebanyakan orang. Kata-katanya adalah perintah dan gerak tubuhnya adalah pendulum yang menentukan kemana kekuasaan akan berpihak. Kalau ada sesuatu yang kurang, itu karena ia tidak menyukai pendidikan dan ilmu. Ia memang berkali-kali keliling dunia, tapi belum pernah sekalipun ia menjamah pusat pendidikan yang Ia lewati. Dalam rentang waktu yang cukup lama berkuasa dan kaya, ia tidak pernah membangun pusat kekuatan yang ada pada dirinya. Ia malah memperbesar kekuatan diri dengan penguasaan terhadap pusat-pusat kekuasaan lainnya. Ia tampak kuat karena topangan orang lain. Ia tidak pernah sendiri dan tidak mungkin ia menyendiri. Kekuatannya ada pada orang lain. Ia tidak memiliki autentisitas (diri yang sebenarnya).

Manusia kuat
Didalam pesawat yang limbung, kita hanya bisa menggantung pada diri sendiri dan pada Allah. Sang Maha kuasa yang memberikan kita anugrah yang tidak tertandingi oleh peberian siapapun: KEBEBASAN MEMILIH DAN KEBEBASAN BERKEHENDAK. Dengan karunia ini, kita bisa memilih mejadi apa saja dan menjadi siapa saja. Kita bukan robot yang dikontrol melalui remote control. Karena itu, jika kita menggantungkan diri kita pada kekuatan luar. Misalnya kekuasaan, jabatan dan popularitas, ketiga hal ini bagaikan remote control  yang mengendalikan diri kita. Jika ketiga hal itu sirna dari diri kita, maka kita kehilangan daya gerak, daya hidup dan segala-galanya jika kita menggantungkan hidup kita pada ketiga hal tersebut.
Saya percaya hal ini karena Victor Frankl, dokter ahli jiwa yang ditahan di kamp konsentrasi Hitler, telah memberikan contoh yang sangat nyata. Hidup dalam ruangan berukuran 3x3 meter bersama 7 orang tahanan lainnya. Semua kejayaannya sebagai dokter dan kepala rumah sakit, kekayaan yang melimpah, popularitas tercabut dari dirinya. Ia hanya memiliki sepotong pakaian lusuh, sebuah buku catatan harian, dan (ini yang paling kuat) kepercayaan akan kekuatan dan makna hidup. Baginya, makna hidup hanya dapat ditemukan dalam diri. Bukan ditangan Hitler atau ditangan para penjaga kamp yang ganas. Ia kemudian bebas dan memaklumkan jenis psikologi baru yang sangat terkenal logoterapi, yang telah mejadikan orang banyak menemukan kekuatan pada diri sendiri.
Saya juga semakin yakin  dengan hal ini setelah melihat beberapa orang disekitar saya yang memiliki keyakinan serupa Frankl. Saya pernah mendapati suatu berita di daerah saya dimana ada dua orang pemimpin yang gagal dari ambisinya untuk memimpin suatu daerah. Yang satu merespon biasa saja karena ia yakin masih ada hal yang bisa ia lakukan dari ilmu yang dia miliki. Sementara yang satunya lagi harus masuk ICU karena serangan jantung tiba-tiba. Orang kedua ini sepanjang berkarier selalu mengaantungkan hidupnya pada kekuatan yang ada diluar dirinya. Ia mungkin lupa bahwa menggantungkan diri pada kecantikan, kecantikan itu akan memudar seiring bertambahnya usia. Jika bergantung pada popularitas, perkembangan regenerasi akan menghilangkan itu. Jika bergantung pada kekuasaan, kekuasaan akan silih berganti.
Saya juga banyak menemukan orang kuat bukan karena mendapat kekuasaan, ia adalah orang biasa, tidak terkenal, tidak dikenal banyak orang dan suka menyendiri. Ia berdiam diri disuatu tempat, ia mendidik anak muridnya, menguatkan kepercayaan diri orang lain, dan menempa jiwa dengan ujian yang berat. Ia menampik kekuasaan yang diberikan sekalipun itu memungkinkannya untuk menjadi kaya dan terkenal. Satu-satunya pekerjaan yang dia banggakan adalah menularkan kepercaya-dirian kepada orang lain, ia membuka kekuatan diri orang lain dengan memberikan keyakinan yang kuat bahwa anda bisa memilih apa saja. Karena kebebasan memilih yang ditanamkan Tuhan dalam diri anda, anda bisa memilih menjadi orang baik atau jahat. Menurut seorang bijak, orang jahat dan orang baik hanya dipisahkan oleh pemisah yang setipis rambut. Tidak heran jika ada orang yang kita kenal baik menjadi kurang baik, dan orang yang kita kenal kurang baik menjadi sangat baik.

Karunia terbesar
Saya mengutip untuk anda apa yang pernah ditulis oleh Stephen R. Covey, dalam bukunya yang laris. The 8th habit: from effectiveness to greatness (2004). Covey membenarkan apa yang menjadi keyakinan banyak orang besar (the great men) berdasarkan risetnya pada ribuan orang. Ia mengemukakan bahwa orang-orang menjadi besar dan berhasil karena mereka mengenali, mengelola dan memanfaatkan potensi yang ada dalam diri mereka, mereka meletakkan nilai yang tinggi pada kekuatan diri mereka.
Salah satu potensi yang kita miliki adalah kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk berkehendak. Potensi ini memberikan kita untuk menjadi budak kuasa, harta dan popularitas. Potensi ini juga memungkinkan kita untuk menjadi tuan atas semua yang ada disekitar kita. Jika kita menghamba pada kekuasaan, itu berarti kita sedang membentuk diri kita sebagai budak dan bisa juga berarti bahwa kita tidak pernah yakin pada kekuatan diri kita dan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sekali lagi, bayangkanlah diri anda seorang jendral yang berada diatas ketinggian 5000 kaki dalam pesawat yang mesinnya mati.
Percayalah, kita semua bisa menjadi apa yang kita mau. Kuncinya sangat sederhana, gantungkanlah harapanmu hanya kepada Allah swt dan perkuatlah dirimu sendiri dengan kekuatan yang kau miliki.

sumber: Manajemen Kecerdasan, Taufik Pasiak
Share:

0 komentar:

Post a comment

Blog archive